Sendratari “Nyai Balau: Buah Pilu” Bangkitkan Ingatan Kolektif Dayak Ngaju di Panggung Taman Budaya Kalteng

Minggu, 7 Desember 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

PALANGKA RAYA — Panggung terbuka Taman Budaya Kalimantan Tengah, Sabtu malam, 6 Desember 2025, menjadi ruang penghidupan kembali salah satu kisah klasik masyarakat Dayak Ngaju. Melalui sendratari berjudul “Nyai Balau: Buah Pilu”, penonton diajak menelusuri kembali jejak sejarah lisan yang selama ini bertahan dari cerita ke cerita, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pementasan yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Tengah melalui UPT Taman Budaya Kalteng tersebut menyajikan dramatika perjalanan hidup Nyai Balau, perempuan dari Tewah yang dikenal karena rambut panjangnya—balau—yang menjadi simbol kelembutan sekaligus keteguhan. Kisah itu kembali diangkat melalui rangkaian gerak tari, musik etnik, dan narasi panggung yang menyusun kembali memori kolektif masyarakat Dayak.

Tragedi yang Menggerakkan Kisah
Sendratari mengambil titik dramatik dari tragedi yang menimpa Nyai Balau. Anak satu-satunya hilang nyawa akibat kayau oleh Asang dari Juking Sopang. Tragedi ini memantik perjalanan seorang ibu yang menuntut keadilan di tengah realitas sosial yang kerap tidak berpihak kepada perempuan. Narasi tersebut dibangun melalui adegan-adegan yang menekankan pergulatan batin, duka, serta ketahanan perempuan Dayak dalam menghadapi tekanan zaman.

Gerak para penari memerankan emosi tanpa kata: kesedihan, kemarahan, hingga doa seorang ibu. Iringan musik tradisional memperkuat suasana, menghadirkan kembali nuansa hutan dan sungai yang menjadi latar budaya Ngaju. Keseluruhan elemen panggung bergerak harmonis untuk mempertegas pesan utama sendratari—bahwa ingatan budaya bukan sekadar cerita lama, melainkan identitas yang tetap hidup.

Kolaborasi Sanggar Seni Kalteng
Produksi sendratari melibatkan berbagai sanggar seni di Kalimantan Tengah, seperti Sawung Batarung, Sawung Batarung Collection, Kahanjak Huang, Antang Batuah, Bukit Kahiang, Hagatang Tarung, Pusat Olah Seni Kotawaringin Sari, Black Tiger Bahalap, Dance Camp De-IN, dan New Beddies. Kolaborasi ini merangkai tari, musik, dan busana tradisional dalam satu kesatuan artistik yang merepresentasikan keberagaman ekspresi seni daerah.

Kehadiran unsur busana dan properti panggung turut merefleksikan kehati-hatian dalam membaca ulang kisah lama. Penataan visual memperkuat atmosfer dramatik yang ingin disampaikan kepada penonton.

Pergelaran ini turut disaksikan oleh Staf Ahli Gubernur Kalimantan Tengah Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Yuas Elko, mewakili Gubernur Agustiar Sabran, serta Kepala UPT Taman Budaya Kalteng, Wildae D. Binti. Kehadiran pemerintah menegaskan bahwa pelestarian budaya merupakan bagian penting dari pembangunan identitas daerah.

Pimpinan Produksi, Christina Natalia, S.Sos., mengapresiasi seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya sendratari. “Kisah Nyai Balau hidup kembali berkat kerja bersama. Terima kasih kepada Pemerintah Provinsi melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta semua pihak yang berkontribusi,” ujarnya.

Ruang Refleksi bagi Perempuan Dayak
Lebih dari sekadar pertunjukan, “Nyai Balau: Buah Pilu” menawarkan ruang refleksi tentang posisi dan perjuangan perempuan Dayak. Kisah Nyai Balau memperlihatkan bahwa keberanian perempuan tidak selalu hadir dalam tindakan demonstratif, melainkan dalam keteguhan menghadapi kehilangan.

Penonton juga diajak memahami kembali makna keadilan, martabat, dan kasih seorang ibu dalam konteks budaya Dayak. Di akhir pementasan, karakter Nyai Balau berjalan perlahan meninggalkan panggung—simbol bahwa kisahnya tetap hidup dan terus diwariskan.

Pementasan tersebut menegaskan bahwa tradisi bukan sekadar arsip sejarah, tetapi warisan yang memerlukan interpretasi dan perawatan generasi kini. Pada malam itu, panggung menjadi saksi bagaimana sebuah duka mampu tumbuh menjadi identitas dan warisan budaya.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

H. Nadalsyah (Koyem) Wafat, IPJI Kalteng Sampaikan Duka Mendalam
IPJI, SPRI, AWPI, IWO dan FKM Bersatu Bagikan Ribuan Masker
Disdukcapil Palangka Raya Jemput Bola Percepat Layanan IKD
Action Sosial Insan Pers Kalteng, Warga Dapat Layanan Aktivasi IKD
Edy Pratowo: Dunia Usaha Berperan Penting Dorong Ekonomi Kalteng
Lima Anggota MPA Sabaru Kembali Usai Terlibat Pemadaman Karhutla di Hutan Sebangau
Kuasa Hukum Prianto Minta ESDM Tunda atau Cabut RKAB PT NPR
Kepedulian di Tengah Kabut Asap, TTA Group Perkuat Perlindungan Kesehatan Anak Panti

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 07:36 WIB

H. Nadalsyah (Koyem) Wafat, IPJI Kalteng Sampaikan Duka Mendalam

Senin, 28 September 2026 - 14:43 WIB

IPJI, SPRI, AWPI, IWO dan FKM Bersatu Bagikan Ribuan Masker

Senin, 28 September 2026 - 13:58 WIB

Disdukcapil Palangka Raya Jemput Bola Percepat Layanan IKD

Senin, 28 September 2026 - 13:21 WIB

Action Sosial Insan Pers Kalteng, Warga Dapat Layanan Aktivasi IKD

Kamis, 24 September 2026 - 17:12 WIB

Edy Pratowo: Dunia Usaha Berperan Penting Dorong Ekonomi Kalteng

Berita Terbaru

Borneo

Disdukcapil Palangka Raya Jemput Bola Percepat Layanan IKD

Senin, 28 Sep 2026 - 13:58 WIB