Merekat Nilai, Menjaga Martabat: Ikhtiar Media Daerah Bertahan di Tengah Gempuran Stigma

Rabu, 3 Desember 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Palangkaraya — Di tengah derasnya arus informasi dan kian kompleksnya ekosistem media, langkah media daerah sering kali terdengar gontai. Bukan karena kehilangan semangat, melainkan karena beban stigma dan ketidakpastian yang terus menekan. Di antara dinamika itu, sekelompok insan pers yang tetap berkomitmen menegakkan marwah jurnalistik harus menghadapi ujian demi ujian—baik dari luar maupun dari internal dunia pers itu sendiri.

Selama bertahun-tahun, julukan–julukan miring menghampiri: wartawan bodrek, abal-abal, atau wartawan antah-berantah. Semua itu menjadi fase pahit yang pernah terlewati. Namun perjalanan belum berhenti di situ. Justru dari fase inilah tumbuh kesadaran untuk terus berbenah, memperbaiki diri, dan membuktikan bahwa integritas bukanlah atribut yang bisa ditukar dengan opini atau kepentingan sesaat.

Rasa gerah kerap datang kembali. Ketika proses pembenahan dilakukan dengan langkah tertatih—kadang terjatuh, bangkit lagi, dan terus belajar—justru muncul narasi yang menggambarkan diri mereka sebagai pihak yang paling dizalimi. Sebuah ironi yang membuat dunia pers daerah makin terbelah oleh ego dan perbedaan sikap.

Padahal, secara hakikat semua insan media berdiri di atas landasan yang sama: menjalankan tugas mulia sebagai salah satu pilar demokrasi. Perbedaan warna, organisasi, atau gaya pemberitaan seharusnya tidak pernah menjadi alasan untuk saling merendahkan, apalagi menjatuhkan.

Media daerah memahami posisinya. Jika dianggap kecil, mereka pun menyadari hal itu. Namun kecil bukan berarti tidak layak dihargai. Mereka hanya meminta ruang sesuai porsi—sebuah porsi yang adil—untuk berkarya, bergerak, dan memberikan kontribusi bagi publik dan daerah.

Dalam perjalanan panjang tersebut, satu hal yang tak pernah padam ialah tekad: bertahan, memperbaiki diri, dan tetap menjaga kehormatan profesi. Sebab di balik segala dinamika dan tantangan, media daerah tetap menjadi bagian penting dalam memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang benar, seimbang, dan bermanfaat.

Perjalanan masih panjang, dan langkah mungkin masih gontai. Namun komitmen tidak boleh sumbing. Media daerah akan terus memantaskan diri—karena demokrasi membutuhkan semua suara, termasuk suara dari mereka yang bekerja dalam senyap namun penuh ketulusan.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

H. Nadalsyah (Koyem) Wafat, IPJI Kalteng Sampaikan Duka Mendalam
IPJI, SPRI, AWPI, IWO dan FKM Bersatu Bagikan Ribuan Masker
Disdukcapil Palangka Raya Jemput Bola Percepat Layanan IKD
Action Sosial Insan Pers Kalteng, Warga Dapat Layanan Aktivasi IKD
Edy Pratowo: Dunia Usaha Berperan Penting Dorong Ekonomi Kalteng
Lima Anggota MPA Sabaru Kembali Usai Terlibat Pemadaman Karhutla di Hutan Sebangau
Kuasa Hukum Prianto Minta ESDM Tunda atau Cabut RKAB PT NPR
Kepedulian di Tengah Kabut Asap, TTA Group Perkuat Perlindungan Kesehatan Anak Panti

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 07:36 WIB

H. Nadalsyah (Koyem) Wafat, IPJI Kalteng Sampaikan Duka Mendalam

Senin, 28 September 2026 - 14:43 WIB

IPJI, SPRI, AWPI, IWO dan FKM Bersatu Bagikan Ribuan Masker

Senin, 28 September 2026 - 13:58 WIB

Disdukcapil Palangka Raya Jemput Bola Percepat Layanan IKD

Senin, 28 September 2026 - 13:21 WIB

Action Sosial Insan Pers Kalteng, Warga Dapat Layanan Aktivasi IKD

Kamis, 24 September 2026 - 17:12 WIB

Edy Pratowo: Dunia Usaha Berperan Penting Dorong Ekonomi Kalteng

Berita Terbaru

Borneo

Disdukcapil Palangka Raya Jemput Bola Percepat Layanan IKD

Senin, 28 Sep 2026 - 13:58 WIB