Gelaran Seni Hari Anak Sedunia Hadirkan Semangat Pelestarian Budaya di Kalimantan Tengah

Rabu, 26 November 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Palangka Raya — Malam di Panggung Terbuka Taman Budaya Kalimantan Tengah berubah hangat dan penuh warna, Rabu (26/11/2025). Sorot lampu panggung memantulkan senyum lugu anak-anak yang bersiap tampil, sementara deretan orang tua, pelatih sanggar, dan pengunjung tampak larut dalam suasana yang sarat kegembiraan. Inilah wajah peringatan Hari Anak Sedunia di Kalimantan Tengah: sederhana, meriah, namun membawa pesan yang begitu mendalam tentang masa depan generasi muda.

Gelaran Seni dan Budaya Menyambut Hari Anak Sedunia yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah melalui UPT Taman Budaya Kalteng ini mengusung tema “Hariku, Hakku” dengan subtema “Anak Terlindungi, Indonesia Maju.” Namun lebih dari sekadar slogan, pesan itu benar-benar hidup melalui ekspresi seni yang dibawakan anak-anak dari berbagai sanggar.

Malam itu, panggung menjadi ruang tumbuh: ruang bagi anak untuk percaya diri, untuk mengenal identitasnya, dan untuk menemukan bahwa budaya bukan sekadar warisan, melainkan bagian dari diri mereka sendiri.

Dari SSB Darung Tingang hingga SSB Bawi Bahalap, dari Swara Suluh Batarung hingga Sanggar Anak Yayasan Usaha Mulia, rangkaian penampilan memadukan dinamika tradisi Dayak dengan kreasi modern yang segar. Adiba, talenta muda dari SKH Negeri 1 Palangka Raya, turut mencuri perhatian dengan penampilan yang tulus dan penuh karakter.

Setiap kelompok hadir membawa ciri khasnya: ada yang menari dengan penuh energi, ada yang menyanyikan lagu, ada pula yang menghadirkan kolaborasi kontemporer tanpa meninggalkan akar tradisi. Perpaduan ini memperlihatkan bagaimana budaya bisa terus bernapas melalui interpretasi generasi muda.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng, dr. Seniriaty, menegaskan bahwa peringatan Hari Anak Sedunia harus lebih dari sekadar kegiatan seremonial.

“Kami ingin memberi ruang bagi anak-anak untuk mencintai, menghargai, merawat, dan menjaga seni budaya daerahnya, khususnya seni budaya Kalimantan Tengah,” ujarnya.

Menurutnya, anak yang mengenal budayanya akan tumbuh dengan identitas kuat, pondasi yang akan membantu mereka menghadapi gempuran perubahan zaman.

Kepala UPT Taman Budaya Kalteng, Wildae D. Binti, menambahkan bahwa kegiatan ini adalah momentum strategis untuk memberikan ruang ekspresi yang sehat dan positif.

“Kami ingin mendorong pelestarian budaya daerah dan nasional melalui keterlibatan anak-anak dalam kegiatan seni, baik kreasi maupun kontemporer,” tuturnya.

Ia menegaskan, seni bukan sekadar hiburan, tetapi juga media pendidikan karakter. Nilai-nilai seperti disiplin, keberanian tampil, kerja sama, dan rasa saling menghargai tumbuh secara alami dalam setiap proses berkesenian.

Peringatan Hari Anak Sedunia yang jatuh setiap 20 November menjadi refleksi global mengenai pentingnya hak-hak anak: hak hidup, hak pendidikan, hak perlindungan, hingga hak mengembangkan potensi. Di Kalimantan Tengah, refleksi itu dijawab dengan pendekatan yang menyentuh: melalui seni.

Di tengah derasnya arus digital dan budaya populer global, kegiatan seperti ini menjadi oase. Anak-anak tidak hanya mengenakan pakaian adat atau menari mengikuti irama musik tradisional. Lebih dari itu, mereka sedang memaknai jati diri, menyerap nilai-nilai leluhur, dan menghidupkan budaya yang diwariskan turun-temurun.

Bagi para orang tua dan pelatih sanggar, melihat anak-anak tampil di panggung bukan sekadar kebanggaan, tetapi harapan. Harapan bahwa budaya daerah tidak akan luntur, melainkan tumbuh seiring langkah kecil generasi penerus.

Gelaran seni budaya ini menegaskan bahwa masa depan kebudayaan Kalimantan Tengah tidak hanya berada di tangan para maestro atau pegiat budaya senior. Ia terpatri pada diri anak-anak yang malam itu menari, menyanyi, dan berkarya dengan tulus. Generasi muda inilah yang kelak akan membawa budaya Kalteng berjalan di masa depan yang lebih maju dan bermartabat.

Dan pada malam yang penuh cahaya itu, satu hal menjadi jelas: seni bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah bahasa cinta, cinta pada diri sendiri, pada budaya, dan pada masa depan.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Karhutla di Langkai Permai Meluas, Polsek Pahandut Bersama Warga Lakukan Pemadaman
Jembatan Sei Katingan Diperbaiki, Arus Lalu Lintas Diberlakukan Sistem Buka-Tutup
Warga Komplek Asabri 3 Palangka Raya Meriahkan HUT RI ke-81 dengan Lomba dan Panggung Hiburan
IPJI Kalteng Maknai HUT RI ke-81 sebagai Momentum Perkuat Kesejahteraan Rakyat
Rapat Tertutup Soal Tali Asih PPKH 281 PT NPR Dipersoalkan, Pemilik Lahan: Hak Kami Jangan Dihilangkan
Arjoni: GP Ansor Kalteng Siap Mandiri Secara Ekonomi dan Bersinergi Tangani Karhutla
Disorot FKM, PUPR Kalteng Klaim Proyek Bahatap Besar Sesuai Kontrak
Dari Sekolah untuk Bumi Indonesia, Kado Istimewa HUT ke-67 SMAN 1 Palangka Raya

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 08:50 WIB

Karhutla di Langkai Permai Meluas, Polsek Pahandut Bersama Warga Lakukan Pemadaman

Selasa, 18 Agustus 2026 - 08:12 WIB

Jembatan Sei Katingan Diperbaiki, Arus Lalu Lintas Diberlakukan Sistem Buka-Tutup

Senin, 17 Agustus 2026 - 16:04 WIB

Warga Komplek Asabri 3 Palangka Raya Meriahkan HUT RI ke-81 dengan Lomba dan Panggung Hiburan

Senin, 17 Agustus 2026 - 11:30 WIB

IPJI Kalteng Maknai HUT RI ke-81 sebagai Momentum Perkuat Kesejahteraan Rakyat

Senin, 10 Agustus 2026 - 16:53 WIB

Rapat Tertutup Soal Tali Asih PPKH 281 PT NPR Dipersoalkan, Pemilik Lahan: Hak Kami Jangan Dihilangkan

Berita Terbaru