Kala Sawit Membakar Amarah: Ketika Suara Warga Tak Lagi Didengar

Rabu, 12 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Palangkaraya — Di bawah terik matahari Kalimantan Tengah, suara-suara lantang warga kian sering menggema di depan gerbang perusahaan perkebunan kelapa sawit. Spanduk protes terbentang, mengiringi langkah ratusan orang yang menuntut hak atas tanah, pekerjaan, atau janji kesejahteraan yang tak kunjung tiba. Namun, tak jarang aksi yang dimulai dengan damai itu berakhir dengan kaca pecah, api membara, dan borgol menjerat tangan.

Pemandangan ini bukan lagi hal asing di sejumlah kabupaten di Kalimantan Tengah. Setiap kali amarah warga pecah, publik pun bertanya-tanya: di mana negara? Untuk siapa sebenarnya izin-izin besar itu diterbitkan?

Pemerhati sosial Hartany Soekarno menilai, akar dari konflik yang terus berulang ini berawal dari ketimpangan manfaat. “Perusahaan diizinkan berdiri di suatu daerah seharusnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Kalau yang terjadi justru aksi demonstrasi, itu artinya ada yang tidak beres. Mungkin masih ada perusahaan yang belum mampu memberi dampak positif bagi warga,” ujarnya.

Menurut Hartany, di sinilah peran pemerintah seharusnya nyata—bukan hanya sebagai pemberi izin atau penjaga stabilitas, melainkan sebagai penengah yang adil. “Pemerintah tidak boleh memihak. Mereka harus hadir memberikan solusi, bukan sekadar mengamankan investasi. Jangan sampai masyarakat yang tinggal di sekitar perusahaan justru menjadi penonton di tanahnya sendiri,” tegasnya.

Ia menambahkan, setiap gejolak sosial selalu memiliki sebab. “Ada sebab maka ada akibat. Ketika pemerintah membiarkan dan tidak peduli, maka masyarakat mencari cara lain untuk didengar. Aksi yang semula damai bisa berubah anarkis, bahkan menimbulkan korban. Ini bentuk keputusasaan,” tuturnya lirih.

Bagi Hartany, ironi terbesar terjadi ketika pemerintah lebih sibuk menjaga angka investasi ketimbang memastikan kesejahteraan rakyat yang menjadi alasan utama keberadaan investasi itu sendiri. “Sangat miris bila pemerintah hanya memperhatikan besarnya nilai investasi tanpa memastikan apakah benar pendapatan itu kembali pada masyarakat,” katanya.

Ia pun menyerukan agar kepala daerah tidak terjebak pada politik ekonomi sempit. “Kebijakan yang bijak adalah yang menyeimbangkan kepentingan perusahaan dan hak masyarakat. Rakyat yang memilih mereka berharap pemimpinnya adil, bukan hanya pandai menandatangani izin.”Jelasnya lagi.

Ketika perusahaan sawit terus tumbuh, sementara sebagian masyarakat tetap hidup di pinggir kesejahteraan, yang terancam bukan hanya stabilitas sosial, tetapi juga kepercayaan terhadap negara. Karena di tengah bau getah sawit dan asap ban terbakar, yang sesungguhnya dipertaruhkan adalah keadilan itu sendiri.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Komitmen Pemerataan Pembangunan, Fasilitas Air Minum Montalat Masuki Tahap Lanjutan
OPINI: Kasus PT AKT dan Ujian Keseriusan Penegakan Hukum di Kalimantan Tengah
Suara Rakyat Tak Boleh Dibungkam
Kasus PT AKT Rp4,2 Triliun Memanas, SUMBO-FKM Minta Jampidsus Periksa Sejumlah Tokoh Kalteng
Tokoh Pers Kalteng Berkumpul, DPW IPJI Dorong Kolaborasi dan Profesionalisme Jurnalistik
Ritual tiwah upacara suci umat hindu kaharingan.
DPW IPJI Kalteng Gelar Pemotongan Sapi Kurban, Perkuat Kepedulian Sosial dan Kebersamaan
Iduladha 1447 H, PT Asmin Bara Bronang dan PT Tuah Turangga Agung Salurkan Sapi Kurban di Bangkuang

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 12:12 WIB

Komitmen Pemerataan Pembangunan, Fasilitas Air Minum Montalat Masuki Tahap Lanjutan

Rabu, 3 Juni 2026 - 16:10 WIB

OPINI: Kasus PT AKT dan Ujian Keseriusan Penegakan Hukum di Kalimantan Tengah

Rabu, 3 Juni 2026 - 06:48 WIB

Suara Rakyat Tak Boleh Dibungkam

Selasa, 2 Juni 2026 - 12:21 WIB

Kasus PT AKT Rp4,2 Triliun Memanas, SUMBO-FKM Minta Jampidsus Periksa Sejumlah Tokoh Kalteng

Minggu, 31 Mei 2026 - 17:30 WIB

Tokoh Pers Kalteng Berkumpul, DPW IPJI Dorong Kolaborasi dan Profesionalisme Jurnalistik

Berita Terbaru

Borneo

Suara Rakyat Tak Boleh Dibungkam

Rabu, 3 Jun 2026 - 06:48 WIB