Menyalakan Semangat Pahlawan di Tengah Hujan: Panggung Budaya dari Bumi Tambun Bungai

Selasa, 11 November 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Palangka Raya, Kalimantan Tengah —
Rintik hujan turun perlahan di atas Panggung Terbuka Taman Budaya Kalimantan Tengah, Senin malam, 10 November 2025. Lampu-lampu panggung yang temaram memantul di genangan air, menciptakan kilau yang menari di antara langkah-langkah para penari muda. Suara kangkanung dan gendang beradu lembut dengan gemericik hujan, mengiringi tarian yang tak sekadar hiburan—melainkan doa, penghormatan, dan semangat perjuangan yang tak lekang waktu.

Di bawah tribun besar yang meneduhi penonton, sekelompok anak muda dari Sanggar SSB Tut Wuri Handayani tampil penuh semangat. Gerak tangan mereka lentik namun tegas, menggambarkan semangat para pahlawan yang gugur demi kemerdekaan. Di sela riuh tepuk tangan penonton, aroma tanah basah bercampur dengan semerbak bunga yang dibawa angin malam—menyatu dalam suasana yang sakral dan syahdu.

Malam itu, UPT Taman Budaya Kalimantan Tengah di bawah naungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah menggelar perayaan seni budaya bertajuk “Pahlawanku Teladanku: Terus Bergerak Melanjutkan Perjuangan.”
Sebuah tajuk yang tak hanya menjadi tema, tetapi juga menjadi napas bagi seluruh pelaku seni yang hadir.

Hujan tak mampu menghentikan semangat. Dari Komunitas Darayun Tingang, Sanggar Katining Ambun, SSB Kurung Diwung, hingga Sangiang Bahombit, setiap kelompok menampilkan karakter budaya yang kuat—perpaduan antara kekuatan tubuh, kelembutan jiwa, dan kebanggaan atas warisan leluhur.

Bahkan ketika lantai panggung mulai licin, para penari tetap menuntaskan gerakannya dengan penuh dedikasi. Gerak yang tegas dan ritmis itu seolah berkata: kami adalah generasi yang melanjutkan perjuangan, dalam bentuk yang berbeda.

Di sudut lain, kelompok Teater Ibumi menghadirkan fragmen dramatik yang menggugah. Mereka memadukan monolog dan gerak tubuh, menghadirkan narasi tentang perjuangan perempuan dalam mempertahankan budaya di tengah arus modernitas. Di belakang panggung, Givakru, Rukmi, dan Terapung mempersiapkan diri dengan wajah bersemangat—menjadi bagian dari rentetan energi seni yang tak pernah padam.

“Bagi kami, ini bukan sekadar acara tahunan,” ujar Wildae D. Binti, Kepala UPT Taman Budaya Kalimantan Tengah, dengan senyum hangat di balik keramaian panggung.

“Ini adalah bentuk semangat juang para pelaku seni dalam merawat, menjaga, dan melestarikan budaya daerah. Kalau dulu pahlawan berjuang dengan senjata, hari ini kita berjuang dengan karya.” ucapnya lembut.

Wildae percaya bahwa setiap penampilan adalah bentuk kecil dari perjuangan besar: perjuangan melawan lupa. Ia berharap, semakin sering masyarakat menyaksikan pergelaran seperti ini, semakin dalam pula kecintaan mereka terhadap seni dan budaya sendiri.

“Kita ingin generasi muda tahu bahwa budaya adalah jati diri bangsa. Semakin kita rawat, semakin kuat akar kita,” tambahnya.

Malam itu juga menjadi ajang silaturahmi antar-daerah. Dua sanggar dari Kabupaten Murung Raya ikut memeriahkan acara, menampilkan tari kreasi yang menggabungkan unsur tradisi dan modernitas. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa semangat budaya tak mengenal batas administratif—ia hidup dan tumbuh di mana pun ada jiwa yang mau menari, menyanyi, dan berkarya.

Acara turut dihadiri oleh Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Yuas Elko, serta perwakilan Dinas Kebudayaan Kabupaten Murung Raya, yang memberi dukungan dan apresiasi terhadap para pelaku seni muda Kalimantan Tengah.

Ketika pertunjukan mencapai puncak, hujan yang sempat deras perlahan reda. Di atas panggung yang kini basah berkilau, para penari berkumpul, mengangkat tangan ke langit—simbol doa dan penghormatan untuk para pahlawan. Tepuk tangan panjang mengisi udara malam, seolah menjadi gema bagi semangat yang baru saja dihidupkan kembali.

Di tengah modernitas yang terus bergerak cepat, malam itu mengingatkan kita: perjuangan tak selalu berupa pertempuran bersenjata. Kadang, ia hadir dalam bentuk yang lebih lembut—tarian, lagu, dan teater—yang menyuarakan cinta kepada tanah dan budaya sendiri.

Dan dari panggung sederhana di Palangka Raya itu, api kecil perjuangan kembali dinyalakan. Api yang tak padam meski diterpa hujan, karena ia menyala dari hati para seniman yang percaya: menjadi pahlawan bisa dimulai dari menjaga budaya.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Ketika Panggung Seni Kalteng di TMII Mulai Sunyi, Siapa yang Bertanggung Jawab?
Karhutla di Kalimantan, Di Mana Negara dan Suara Wakil Rakyat?
Polda Kalteng Dalami Laporan Dugaan Penggelapan Dana Tali Asih Lahan Rp2,137 Miliar
Enam Bulan Disanksi, PT BAP Terancam Kehilangan Izin Usaha
Pertamina Klarifikasi Isu Kelangkaan BBM, Stok Kaltim Masih Terkendali
H. Nadalsyah (Koyem) Wafat, IPJI Kalteng Sampaikan Duka Mendalam
IPJI, SPRI, AWPI, IWO dan FKM Bersatu Bagikan Ribuan Masker
Disdukcapil Palangka Raya Jemput Bola Percepat Layanan IKD

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 15:02 WIB

Ketika Panggung Seni Kalteng di TMII Mulai Sunyi, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Kamis, 15 Oktober 2026 - 10:56 WIB

Karhutla di Kalimantan, Di Mana Negara dan Suara Wakil Rakyat?

Rabu, 14 Oktober 2026 - 17:42 WIB

Polda Kalteng Dalami Laporan Dugaan Penggelapan Dana Tali Asih Lahan Rp2,137 Miliar

Senin, 12 Oktober 2026 - 14:19 WIB

Enam Bulan Disanksi, PT BAP Terancam Kehilangan Izin Usaha

Selasa, 6 Oktober 2026 - 07:36 WIB

H. Nadalsyah (Koyem) Wafat, IPJI Kalteng Sampaikan Duka Mendalam

Berita Terbaru

Borneo

Enam Bulan Disanksi, PT BAP Terancam Kehilangan Izin Usaha

Senin, 12 Okt 2026 - 14:19 WIB