Sidang Sengketa Lahan Muara Teweh: Saksi Adat Tegaskan Ladang Berpindah Bukan Pelanggaran

Senin, 2 Maret 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Muara Teweh – Persidangan sengketa lahan antara masyarakat adat dan PT NPR kembali bergulir di Pengadilan Negeri Muara Teweh, Senin (2/3/2026). Agenda sidang kali ini menghadirkan saksi adat yang memaparkan secara rinci praktik ladang berpindah yang dipersoalkan dalam perkara tersebut.

Sekretaris Umum Dewan Adat Dayak Kabupaten Barito Utara (DAD), Moises, menjelaskan bahwa sistem ladang berpindah merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Dayak yang bertujuan menjaga keseimbangan alam dan kesuburan tanah.

Di hadapan majelis hakim, Moises menerangkan bahwa pola bercocok tanam tersebut tidak menggunakan pupuk kimia maupun irigasi modern. Warga mengandalkan curah hujan serta pupuk alami, kemudian memindahkan lokasi tanam setelah beberapa musim agar unsur hara tanah pulih kembali secara alami.

“Praktik ini bagian dari kearifan lokal. Ada tahapan adat dan unsur spiritual sejak membuka lahan hingga panen. Selain menopang kebutuhan pangan keluarga, sistem ini menjaga keberlanjutan lingkungan,” ujarnya usai persidangan.

Moises juga menegaskan keberadaan masyarakat adat di wilayah Barito Utara telah ada jauh sebelum penetapan status kawasan hutan oleh pemerintah. Ia merujuk pada Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 18B Ayat 2 yang mengamanatkan negara untuk mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak tradisionalnya.

Terkait kepemilikan tanah ulayat, ia menjelaskan pembagian lahan didasarkan pada garis keturunan yang jelas dan disepakati bersama. Setiap keluarga memahami batas wilayahnya sehingga tidak terjadi tumpang tindih di tingkat masyarakat.

Kesaksian tersebut sejalan dengan keterangan Trisno, tokoh masyarakat yang sebelumnya menyatakan bahwa lahan yang dikelola Pak Prianto merupakan bagian dari hamparan milik bersama kelompok masyarakat, termasuk ladang belukar miliknya.

Sementara itu, kuasa hukum Prianto, Ardian Pratomo, S.H., kembali mempersoalkan aspek perizinan PT NPR. Ia menyoroti dugaan tumpang tindih Izin Usaha Pertambangan (IUP) antara PT NPR dan PT WIKI yang terungkap dalam persidangan sebelumnya.

Ardian juga mempertanyakan legalitas saksi dari pihak perusahaan yang disebut hanya mengantongi mandat lisan tanpa dokumen resmi pendukung.

Menurutnya, fakta-fakta persidangan menunjukkan adanya persoalan internal perizinan di pihak perusahaan, di tengah klaim hak ulayat masyarakat adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Pihak pembela berharap majelis hakim mempertimbangkan seluruh aspek, termasuk pengakuan terhadap kearifan lokal dan hak adat, sebelum menjatuhkan putusan dalam perkara tersebut

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Keberatan atas Pemberitaan Blok Anyol, Mediasi Sengketa Lahan Riki–Darwin Diminta
Ketika Panggung Seni Kalteng di TMII Mulai Sunyi, Siapa yang Bertanggung Jawab?
Karhutla di Kalimantan, Di Mana Negara dan Suara Wakil Rakyat?
Polda Kalteng Dalami Laporan Dugaan Penggelapan Dana Tali Asih Lahan Rp2,137 Miliar
Enam Bulan Disanksi, PT BAP Terancam Kehilangan Izin Usaha
Pertamina Klarifikasi Isu Kelangkaan BBM, Stok Kaltim Masih Terkendali
H. Nadalsyah (Koyem) Wafat, IPJI Kalteng Sampaikan Duka Mendalam
IPJI, SPRI, AWPI, IWO dan FKM Bersatu Bagikan Ribuan Masker

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Keberatan atas Pemberitaan Blok Anyol, Mediasi Sengketa Lahan Riki–Darwin Diminta

Selasa, 20 Oktober 2026 - 15:02 WIB

Ketika Panggung Seni Kalteng di TMII Mulai Sunyi, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Kamis, 15 Oktober 2026 - 10:56 WIB

Karhutla di Kalimantan, Di Mana Negara dan Suara Wakil Rakyat?

Rabu, 14 Oktober 2026 - 17:42 WIB

Polda Kalteng Dalami Laporan Dugaan Penggelapan Dana Tali Asih Lahan Rp2,137 Miliar

Senin, 12 Oktober 2026 - 13:10 WIB

Pertamina Klarifikasi Isu Kelangkaan BBM, Stok Kaltim Masih Terkendali

Berita Terbaru