Palangka Raya – Kasus dugaan kredit bermasalah senilai Rp200 miliar yang menimpa Bank Kalteng terus menuai sorotan dari berbagai elemen masyarakat. Kali ini, Ketua Perkumpulan Suara Masyarakat Borneo (SUMBO), Diamon, menyampaikan pernyataan tegas menanggapi persoalan tersebut. Ia menyoroti lemahnya sistem pengawasan internal bank dan mempertanyakan kapabilitas pimpinan dalam mengelola risiko kredit.(31/08)
Dalam siaran pers yang diterima media ini, Diamon menegaskan bahwa publik berhak mendapatkan penjelasan yang terbuka dan berbasis data dari manajemen Bank Kalteng. Menurutnya, isu ini tidak boleh dibiarkan mengambang tanpa klarifikasi resmi, mengingat Bank Kalteng adalah lembaga keuangan daerah yang mengelola dana publik dan memiliki posisi strategis bagi perekonomian Kalimantan Tengah.
“Publik menunggu penjelasan manajemen Bank Kalteng terkait angka Rp200 miliar tersebut, termasuk sektor kredit yang bermasalah, status penanganannya, serta apakah terdapat indikasi pelanggaran dalam proses pemberian kredit,” ujar Diamon dalam rilisnya.
Lebih lanjut, Diamon menyoroti lemahnya fungsi pengawasan internal yang diduga menjadi akar masalah. Ia mempertanyakan mengapa sistem peringatan dini (early warning system) dan prosedur analisis kredit tidak mampu mendeteksi potensi kredit macet sejak awal. Jika ditemukan adanya penyimpangan prosedur dalam penyaluran kredit, Diamon meminta agar mekanisme audit internal dan aparat penegak hukum bekerja sesuai ketentuan yang berlaku.
“Apabila dalam proses penyaluran kredit ditemukan indikasi penyimpangan, maka pengawasan internal maupun aparat penegak hukum perlu bekerja sesuai ketentuan. Namun, jika kredit bermasalah tersebut terjadi murni akibat persoalan usaha debitur, manajemen tetap dinilai perlu menjelaskan strategi penyelesaiannya agar persoalan tidak berkembang menjadi beban yang lebih besar,” tegasnya.
Sorotan terhadap kemampuan pimpinan Bank Kalteng juga menjadi perhatian serius. Diamon menilai kasus ini menjadi ujian bagi tata kelola dan kepemimpinan di tubuh bank milik daerah tersebut. Ia mengingatkan bahwa kepercayaan masyarakat dan investor sangat bergantung pada bagaimana manajemen menangani krisis ini secara transparan dan akuntabel.
Hingga berita ini ditayangkan, manajemen Bank Kalteng belum memberikan tanggapan resmi terkait tuntutan klarifikasi yang diajukan oleh SUMBO dan pihak lainnya. Media ini masih terus berupaya mengonfirmasi pihak bank untuk memperoleh pernyataan resmi.
Kasus ini menjadi perhatian luas, terutama karena Bank Kalteng diketahui sedang dalam tahap persiapan untuk melantai di bursa saham (go public). Kondisi ini dinilai dapat mempengaruhi kepercayaan calon investor jika tidak segera ditangani dengan baik dan transparan.


















Komentar