“Tikus Berdasi” dan Cermin yang Retak: Renungan Hartany Soekarno. tentang Korupsi, Bencana, dan Luka Kolektif Bangsa

Minggu, 7 Desember 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Palangka Raya, Minggu, 7 Desember 2025.
Sore itu, angin tipis menyelinap di antara daun pohon yang rindang. Di pendopo rumah sederhana milik Hartany Soekarno, wartawan senior yang lebih dari empat dekade hidup bersama cerita rakyat, penulis duduk berbincang santai. Obrolan berjalan pelan, seperti biasa.
Tiba tiba seekor makhluk kecil melintas membuat percakapan itu berubah arah.

Seekor tikus tiba-tiba berlari melintas di tepi pendopo. Gerakan cepat itu memantik ingatan penulis pada anekdot populer yang kerap diucapkan publik:
“Tikus berdasi”
Sebuah metafora yang dilekatkan pada politikus atau pejabat yang kerap melakukan korupsi. Hartany, memperhatikan arah pandang penulis, hanya tersenyum tipis.

“Pertanyaan itu banyak orang ajukan,” katanya sambil menyesap kopi hitam hangat.
“Jawabannya sebenarnya sederhana, tapi menyakitkan.” jelasnya lagi.

Hartany menjelaskan dengan lugas, nyaris seperti seorang guru yang sabar menuntun muridnya memahami kenyataan pahit.

“Tikus bekerja sembunyi-sembunyi. Ia mengambil makanan tanpa ketahuan. Koruptor juga begitu—mengambil uang negara tanpa suara, lewat mark-up, lewat manipulasi angka, lewat celah anggaran,” ujarnya.

Ia kemudian menyebut satu per satu perumpamaan yang sudah menjadi bagian dari kesadaran budaya masyarakat:
Tikus mencari celah sekecil apa pun. “Begitu pula koruptor yang mencari celah hukum, celah prosedur, bahkan celah moral.
”Dan Tikus baru terlihat ketika kerusakannya membesar.
“Kita baru menjerit setelah anggaran ambruk, layanan publik macet, rakyat susah.”
Tikus cepat berkembang biak.
“Dan begitu korupsi jadi budaya, ia menular. Jadi jaringan. Jadi ekosistem kelam.”
Tikus dianggap hewan kotor. “Korupsi juga membawa ‘penyakit’, merusak moral, kepercayaan, bahkan masa depan.”

Hartany berhenti sejenak, seolah memilih kata berikutnya dengan hati-hati.
“Dan satu lagi,” tambahnya pelan, “tikus akan makan apa saja. Apa pun. Asal dirinya kenyang. Itu sebabnya publik menghubungkan korupsi dengan bencana yang terjadi di Sumatera atau daerah lain. Hutan digunduli, izin diperdagangkan, sungai dinodai. Bencana itu tidak lahir sendiri, ada tangan manusia yang ingin makan sendiri di ujungnya.” tegasnya.

Menurut Hartany, krisis moral bukan sekadar soal pejabat yang ditangkap atau anggaran yang bocor. Ini soal hilangnya titik rujukan etika yang dahulu menjaga masyarakat tetap berjalan lurus. “Kepada siapa lagi kita bercermin bila cermin itu sudah pecah?” katanya lirih.

Ia mengangkat tatapannya ke arah halaman, di mana menggelantung buah rambutan menari diterpa angin.
“Kalau cermin tak lagi punya arti, maka bercermin lah pada riak gelombang Dengan satu kata ‘Hak ku’.” ucapnya pelan tapi tegas. Kata itu pendek, sederhana, namun menghunjam, melukiskan inti persoalan: egoisme yang kini menembus batas ruang publik dan politik.

Obrolan di pendopo sore itu bukan sekadar diskusi tentang tikus dan koruptor. Ia menjadi semacam renungan kecil tentang apa yang sedang terjadi pada bangsa ini. Tentang bagaimana praktik korupsi tidak hanya menghancurkan anggaran, tetapi juga menimbulkan luka ekologis, sosial, hingga moral.

Hartany, dengan suaranya yang tenang, mengingatkan bahwa metafora tikus bukan sekadar ejekan. Ia adalah alarm. Tanda bahaya. Suara pelan yang sering kita abaikan hingga terlambat.

“Kalau kita tidak mau lagi bercermin pada kebenaran dan Keadilan,” ucapnya, “maka suatu hari bangsa ini akan hanya mengenali gelombang keruh di permukaan air, bukan wajahnya sendiri.” tutupnya.

Sore merambat menjadi senja. Percakapan pun pelan-pelan usai. Namun kata-kata Hartany, tentang tikus, korupsi, bencana, dan cermin yang retak, tinggal menggantung di udara, meninggalkan renungan yang tidak mudah hilang: bahwa perbaikan negeri ini bukan hanya soal mengganti pejabat, tetapi memulihkan cara kita bercermin sebagai bangsa yg berakal sehat lahir batin.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Rumah Dinas untuk Siapa? Dugaan Penggunaan Aset Negara di Luar Peruntukan Jadi Sorotan
Bahu Jalan Nyaris Tak Ada, Sopir Minta BPJN Bertindak
Investigasi: Aspal Proyek Rp40,79 Miliar Diduga Tak Sesuai Spesifikasi, BPJN Diminta Turun Tangan
Kapolda Kalteng Pimpin Konferensi Pers, Paparkan Fakta Penyerangan Brutal terhadap Tiga Personel Polri
DPW Deprindo Kalteng Siap Dukung Program Tiga Juta Rumah dan Tingkatkan PAD
Musprov VIII KADIN Kalteng Diharapkan Perkuat Sinergi Dunia Usaha. Pertumbuhan Ekonomi Daerah yang Inklusif
Dua Alat Berat Misterius dalam Kasus Perambahan HPK Sukamara Dipertanyakan, Kuasa Hukum Desak Polda Kalteng Beri Penjelasan
Gorong-Gorong Aramco Berusia 36 Tahun Ambrol, Balai Jalan Lakukan Penanganan Darurat

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 18:46 WIB

Rumah Dinas untuk Siapa? Dugaan Penggunaan Aset Negara di Luar Peruntukan Jadi Sorotan

Jumat, 24 Juli 2026 - 10:52 WIB

Bahu Jalan Nyaris Tak Ada, Sopir Minta BPJN Bertindak

Jumat, 24 Juli 2026 - 07:49 WIB

Investigasi: Aspal Proyek Rp40,79 Miliar Diduga Tak Sesuai Spesifikasi, BPJN Diminta Turun Tangan

Jumat, 24 Juli 2026 - 05:21 WIB

Kapolda Kalteng Pimpin Konferensi Pers, Paparkan Fakta Penyerangan Brutal terhadap Tiga Personel Polri

Kamis, 23 Juli 2026 - 16:39 WIB

DPW Deprindo Kalteng Siap Dukung Program Tiga Juta Rumah dan Tingkatkan PAD

Berita Terbaru

Borneo

Bahu Jalan Nyaris Tak Ada, Sopir Minta BPJN Bertindak

Jumat, 24 Jul 2026 - 10:52 WIB